Pelanggar Lalu Lintas Di Kota Cirebon Terbilang Tinggi, Polisi Rangkul Masyarakat Untuk Mentaati Tata Tertib Dalam Berkendara

oleh -52 views

Beritapolisi.id | Polda Jabar – Polresta Cirebon, Meningkatnya angka pelanggaran yang menyebabkan kecelakaan di Kota Cirebon masih terbilang tinggi. Dengan mendapatkan rapor merah tentunya menjadi tanggung jawab bersama masyarakat Kota Cirebon yang kurang menyadari aturan tata tertib dalam berkendara.

Dengan upaya – upaya yang sudah berjalan dilakukan Tindakan Preventif, Represif, Kuratif, untuk mencegah adanya penyimpangan sosial yang menyebabkan pelanggaran sehingga dapat diredam atau dicegah.

Terutama dengan pengendalian yang bersifat preventif, umumnya dilakukan dengan cara melalui bimbingan, pengarahan dan ajakan.

Kasatlantas Polres Kota Cirebon, AKP Rezkhy Satya Dewanto, S.Ik tidak tinggal diam dalam menghilangkan image kota Cirebon dengan sebutan Kota Tilang.

Menurut Rezkhy pada awal tahun 2016, tepatnya pada bulan Februari, Oknum – oknum Polisi Lalu Lintas Kota Cirebon melakukan penindakan (penilangan) yang tidak sesuai dan terkesan berlebihan.

Namun disisi lain, Polres Cirebon yang dulunya pernah mendapatkan image Kota Tilang ini tentu sebenarnya berbenturan.Bagaimana harus menegakkan disiplin lalulintas di masyarakat,” Tapi image tersebut bisa dihilangkan dari sudut pandang masyarakat. Melaksanakan operasi baik teguran ataupun berupa penegakan hukum apabila pelanggaran tersebut dikatakan cukup fatal,” papar Rezkhy diruang kerjanya, Senin (22/01).

Lanjut Rezkhy tingkat kecelakaan dan pelanggaran yang tinggi disebabkan kurang sadarnya masyarakat Kota Cirebon dalam berkendara, sehingga indikasi kecelakaan terbilang tinggi karena faktor pelanggaran baik dari kelalaian ataupun yang disengaja merupakan suatu pelanggaran Undang-undang (UU) Lalu Lintas hingga bisa terkena UU Pidana Umum.

Dengan menggalakan setiap anggota sebanyak mungkin hampir di beberapa titik rawan terjadinya pelanggaran dan kecelakaan, kepolisian lalu lintas menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

“Kita tidak bisa menilai sebuah kecelakaan yang terjadi di wilayah kita, hanya dengan menentukan kuantitas angka kecelakaan, tapi ditinjau dari fatalitas yang sedikit itu lebih baik dibandingkan jumlah kecelakaannya yang sedikit tapi fatalitasnya cukup tinggi,” jelas Rezkhy.

Ditambahkan Rezkhy probabilitas (peluang) kecelakaan dengan jumlah 2 orang pengendara yang kecelakaan, namun yang meninggal berjumlah 5 orang karena dampak dari kecelakaan tersebut, tentunya hal inilah yang lebih menjadi indikator target prioritas.

Diharapkan ke depannya, Masyarakat kota Cirebon lebih sadar dengan tata tertib lalu lintas tanpa harus diingatkan atau karena hanya ada polisi.

Wajib membawa surat – surat kendaraan, helm bagi pengguna sepeda motor, persyaratan teknis kendaraan harus lengkap.

Bagi kendaraan R4 penumpangnya diharapkan memakai sabuk pengaman,”Jika Masyarakat bisa sadar akan hal ini, pastinya apabila tertib angka pelanggaran dan kecelakaan pasti berkurang,”ujar Rizkhy.

Dengan penerapan rumus, Kecelakaan diawali dengan adanya pelanggaran apabila polisi hadir di lapangan tentunya akan menekan angka pelanggaran sehingga dapat menekan terjadinya kecelakaan. Dengan melakukan upaya Preventif, Represif dan Kuratif berupa ajakan, teguran hingga sampai proses penegakan hukum yang berlaku dan sesuai.

Untuk itu banyaknya anggota lalu lintas di Cirebon Kota melakukan operasi tilang guna untuk menekan angka kecelakaan. Berdasarkan pantauan Lalu Lintas SATLANTAS POLRES CIREBON KOTA, Angka kecelakaan dan pelanggaran berbanding terbalik, untuk pelanggaran paling tinggi didominasi oleh usia pelajar.

Sedangkan untuk angka kecelakaan didominasi oleh orang dewasa dengan usia 20 tahun ke atas.

“Dengan adanya analisa kami di lapangan yang terfokus pada semua usia dari usia remaja hingga dewasa. Tiap tahunnya angka pelanggaran ataupun kecelakaan signifikan menurun,”jelas Rezkhy.

Dalam hal ini POLDA JABAR yang ditarget oleh KORLANTAS mempunyai tujuan bagaimana menekan angka kecelakaan lalu lintas yang dilakukan dengan upaya – upaya yang inovatif tiap tahunnya dengan memperhatikan tingkah, sikap dan pola kebiasaan masyarakat.

Kinerja SATLANTAS terbukti pada tahun 2016 – 2017 dengan persentase yang turun 18%, kemudian persentasenya meningkat hingga turun 20% di tahun 2017 – 2018 awal. Hal – hal lain terkait pelanggaran, salah satu faktor pendukung angka kecelakaan adalah kebiasaan masyarakat, orang tua yang mempunyai anak dibawah umur berusia 18 tahun ke bawah yang membiarkan anak – anaknya mengendarai kendaraan bermotor.

SATLANTAS bersama UNIT DIKYASA menitipkan pesan – pesan kepada pihak sekolah serta orang tua melarang muridnya yang dibawah umur untuk tidak membawa dan mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah dengan alasan jika belum memilki SIM.

Terutama orang tua yang berperan penting dalam mengijinkan anaknya yang dibawah umur bisa dikenakan sanksi dan akan dikenakan pidana umum karena sudah termasuk ada unsur kesengajaan membiarkan anak kecil ,remaja yang belum cukup umur mempunyai psikologis dan mental yang masih labil membawa motor hingga dapat berujung maut. Dengan kata lain orang tua memberikan ‘Mesin Pembunuh’ (kendaraan bermotor yang dapat menyebabkan kecelakaan).

Tidak harus dengan membawa motor, kendaraan sarana transportasi untuk ke sekolah pun sudah mendukung dengan adanya transportasi angkutan umum, online.

AKP Rhezky menuturkan harapan ke depannya, “Diharapkan kepada masyarakat supaya bisa lebih tertib lagi dalam dirinya ditumbuhkan kesadaran untuk tertib setiap keluar jalan raya, tidak perlu diatur lagi oleh polisi, jika semua sudah tertib, angka kecelakaan dan pelanggaran pasti berkurang dengan sendirinya,”
tutupnya. (Tim JK Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *