Dengan Perubahan Sila I Pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945 Menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, Membuktikan Bahwa Pembentuk Negara

Pembentukan Negara Indonesia

Pembentukan Negara Indonesia merupakan salah satu tahapan penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Proses pembentukan negara ini dimulai sejak proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, yang kemudian diikuti oleh penyusunan Piagam Jakarta pada tanggal 22 Juni 1945. Perubahan Sila I pada Piagam Jakarta menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi bukti nyata akan komitmen pembentuk negara terhadap nilai-nilai ketuhanan.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila I dalam Piagam Jakarta awalnya berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Namun, dengan perubahan Sila I, kata-kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapuskan, sehingga Sila I hanya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan ini menunjukkan kesadaran pembentuk negara bahwa Indonesia adalah negara yang beragam dengan prinsip ketuhanan yang inklusif.

Makna Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketuhanan Yang Maha Esa dalam konteks pembentukan negara Indonesia memiliki makna yang mendalam. Ketuhanan yang dimaksud bukan hanya secara agama tertentu, tetapi mencakup pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan Tuhan yang diyakini oleh setiap individu, tanpa memandang agama, suku, atau etnisnya. Ketuhanan Yang Maha Esa juga menekankan pentingnya kebersamaan dan persatuan dalam keragaman.

Perubahan Sila I menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga memberikan pesan bahwa negara Indonesia diakui dan dihormati oleh negara-negara lain sebagai negara yang berpegang pada prinsip ketuhanan yang inklusif. Hal ini memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional serta membuka kesempatan untuk menjalin kerjasama yang lebih baik dengan negara-negara lain.

Selain itu, perubahan Sila I juga mencerminkan semangat demokrasi dalam beragama yang terdapat dalam negara Indonesia. Dengan menghapuskan frasa “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, negara Indonesia mengakui hak setiap individu untuk mengamalkan agamanya masing-masing tanpa paksaan atau diskriminasi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan beragama.

Kesimpulan

Perubahan Sila I pada Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan tonggak penting dalam pembentukan negara Indonesia. Sila I yang inklusif mengakui dan menghormati keberagaman agama serta nilai-nilai ketuhanan dari setiap individu, tanpa memandang agama, suku, atau etnisnya. Hal ini menunjukkan komitmen pembentuk negara terhadap pembangunan negara yang inklusif, demokratis, dan menjunjung tinggi kebebasan beragama dalam kerangka kesatuan Indonesia. Perubahan ini juga memberikan pengakuan internasional terhadap negara Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip ketuhanan yang inklusif.

Tinggalkan komentar